Bagaimana landasan dari home schooling?
Landasan home schooling (Muhtadi, 2008 hlm.6) adalah pendidikan pribadi (personalized education) merupakan konsep pendidikan yang memberukan perhatian yang sangat besar pada kedudukan peserta didik. Konsep pendidikan pribadi menurut Nana Syaodih Sukmadinata (Muhtadi, 2008) berlandaskan bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi-potensi, baik potensi untuk berpikir, berbuat, memecahkan masalah, berkomunikasi, berkreasi, membina hubungan-hubungan sosial, maupun potensi dan kecakapan belajar dan berkembang sendiri. Dari pendapat tersebut, maka landasan adanya home schooling adalah anak telah lahir dengan potensinya dan dapat berkembang melalui lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan pertumbuhannya.
Pada intinya, pendidikan pribadi ini lebih menekankan pada penggalian potensi yang ada pada diri anak dengan memberikan pengalaman yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Selain itu, pada hakikatnya anak adalah pribadi yang unik dan berbeda satu dengan lainnya. Oleh karena itu, pendidikan pribadi ini memandang kemampuan dan kebutuhan anak tidaklah sama dan perlakuan dalam proses belajar harus sesuai denan kemampuan dan kebutuhan anak. Hal inilah yang kurang terjamah oleh sekolah formal.

Bagaimana Karakteristik  Home Schooling?
Karakteristik yang membedakan home schooling dengan pendidikan informal lainnya menurut Muhtadi (2008), yakni 1) orientasi pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter pribadi dan perkembangan potensi bakat, minat anak secara ilmiah dan spesifik. 2) Kegiatan belajar bisa terjadi secara mandiri, bersama orang tua, tutor dan di dalam suatu komunitas. 3) Orang tua memegang peran utama sebagai guru, motivator, fasilitator, dinamisator, teman diskusi dan teman dialog dalam menentukan kegiatan belajar dan dalam proses kegiatan belajar. 4) Keberadaan guru lebih berfungsi sebagai pembimbing dan pengarah minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya. 5) Adanya fleksibilitas pengaturan jadwal kegiatan pembelajaran. 6) Adanya fleksibiltas pengaturan jumlah jam pelajaran untuk setiap materi pelajaran. 7) Pendekatan pembelajaran lebih bersifat personal dan humanis. 8) Proses pembelajaran dilaksanakan kapan saja, bersama siapa saja, dan di mana saja. 9) Memberikan kesempatan anak belajar sesuai minat, kebutuhan, kecepatan dan kecerdasan masing-masing. 10) Tidak ada istilah naik kelas, semua anak bisa naik kelas sesuai kecepatan masing-masing. 11) Evaluasi Ujian Akhir Nasional  bisa dilaksanakan kapan saja sesuai kesiapan masing-masing anak. Untuk Indonesia, evaluasi Ujian Akhir Nasional dapat ditempuh melalui ujian kesetaraan paket A, B, dan C yang dilaksanakan oleh Dirjen PLS.
Berdasarkan karakteristiknya, home schooling ini membutuhkan guru yang benar-benar memahami karakter anak, mungkin sekilas pandangan masyarakat menganggap bahwa home schooling dapat dilakukan oleh orang tua saja. Namun, bagaimana kriteria orang tua yang dibutuhkan anak dalam kegiatan home schooling? Orang tua minimal harus mempunyai banyak waktu untuk mendidik anaknya, selain itu orang tua harus cerdas untuk menyampaikan materi pada anak karena home schoolingbersifat fleksibel dan tidak mempunyai struktur kurikulum yang baku.

Bagaimana Penerapan Home Schooling di Indonesia?
Populernya home schooling di Indonesia, menjadikan salah satu pertimbangan orang tua untuk tidak mengirim anaknya ke sekolah. Secara umum, fenomena berkembangnya home schooling di Indonesia dapat dikategorikan menjadi tiga konteks menurut Muhtadi (2008),  yaitu pertama, fenomena home schooling tumbuh di masyarakat kalangan menengah atas. Keluarga pada kalangan menengah atas memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak yang sangat besar. Orang tua mengharapkan anaknya untuk tumbuh dan berkembang memiliki multiintelegent, dan tidak memandang kemampuan akademik semata. Kedua, yaitu pada konteks keluarga miskin dan sulit mengakses pendidikan formal yang cukup mahal. Munculnya fenomena home schooling ini pada keluarga miskin, bukan karena pemikiran yang mendalam akan kebutuhan pendidikan. Namun, keterbatasan ekonomi untuk dapat menjangkau pendidikan formal.
Ketiga, fenomena home schooling terjadi ketika anaknya memiliki kesibukan yang tinggi, sehingga tidak dapat pergi ke sekolah formal. Biasanya kalangan artis yang melakukannya, terlalu padatnya acara membuat artis yang masih berusia sekolah memilih home schooling, selain tidak teraturnya waktu untuk belajar juga dapat memberikan kenyamanan pribadi dengan home schooling.
Secara umum model pelaksanaan home schooling di Indonesia menurut Muhtadi (2008, hlm.16) dapat diidentifikasikan sebagai berikut: a) Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan oleh orang tua di rumah.lingkungan; b) Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan oleh orang tua dan tutor di rumah dan di dalam komunitas. Biasanya kegiatan di komunitas dilaksanakan 2 kali dalam seminggu; c) Pelaksanaan kegiatan menggunakan sistem campuran: 3 hari di sekolah formal yang mendukunghome schooling (seperti di Morning Star Academy) dan selebihnya di rumah/lingkungan oleh orang tua; dan d)  Pelaksanaan kegiatan pembelajaran bergabung dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dengan tatap muka minimal 5x3 jam per minggu, selebihnya mandiri dan bersama orang tua.
Dalam setiap penyelenggaraan pendidikan yang salah satu pendekatannya menggunakan home schooling, terdapat kelebihan dan kelemahan. Berikut ini beberapa kelebihan home schooling (Rumah inspirasi, 2007) di antaranya, pertama, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Kedua, Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum. Ketiga, Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah. Keempat, Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya. Kelima, Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb). Keenam, Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).Dan Ketujuh, biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua.
Beberapa kelemahan dari home schooling (Rumah inspirasi, 2007) yaitu pertama, butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua dalam mengadakanhome schooling. Kedua, anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial. Ketiga, Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan. Keempat, Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.
Dari konsep home schooling yang memberikan kebebasan mengenai cara belajar anak dengan pendekatan yang kontekstual dan humanis, dan perhatian yang penuh dari orang tua, menjadikan landasan home schooling ini sangat sesuai dengan perkembangan anak yang membutuhkan perhatian dari orang tua. Home schoolingdapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang dapat diberikan oleh orang tua pada anaknya. Namun, ketika orang tua akan menerapkan home schooling, orang tua harus benar-benar mempersiapkan apa yang akan dituju dalam pendidikan untuk anaknya. Selain itu, belum adanya kurikulum yang baku untuk penyelenggaraan home schooling, menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang tetap ingin anaknya belajar home schooling. Pertimbangan lainnya, bagi anak yang memang tidak mau sekolah, home schooling ini menjadi salah satu alternatif untuk anak agar tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
Home schooling juga tidak selamanya baik untuk perkembangan anak, ada beberapa aspek perkembangan pada anak yang mungkin saja terhambat. Perkembangan yang dapat terhambat oleh penerapan home schooling pada anak antara lain adalah perkembangan sosial dan emosi. Anak akan kurang bisa bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan yang baru. Anak juga akan kurang meluapkan emosi dan empatinya karena terbatasnya permasalahan dan interaksi dari lingkungan selama ini.
Kembali lagi, inti dari perkembangan anak adalah peran orang tua. Salah mendidik akan menyebabkan perkembangan anak terhambat. Terlalu memberikan kebebasan pada anak atau mengekang anak akan menyebabkan perkembangan emosi anak terganggu. Orang tua yang ideal adalah orang tua yang tahu kebutuhan anak, yang memahami bakat anak dan mengarahkannya untuk kebaikan, tanpa memaksakan kehendak orang tua.

Leave a Reply